Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Momlicious life - New Mom Struggle

Right after Wellcoming my first born, the new mom struggle begins!!! Melahirkan itu memelahkan, menguras tenaga dan mental sekali, ga peduli melahirkan normal atau sesar. Dalam kondisi yg seperti itu new mom berjuang beradaptasi dengan tangisan bayi dan asi yang mana itu memerlukan sanity bukan Insanity supaya rasa kasih kepada anak keluar maksimal, mengalahkan baby blues dan PPD (kalau ada). Kondisi ini sangat membutuhkan support system yg bagus. Pada kasusku, aku mengalami kelehan akibat persalinan, gejolak hormon krn perubahan dari hamil jadi ga hamil, dan sebagai new mom yg pertama kali punya bayi lihat bayi menangis itu rasanya perih dihati, selain itu aku pun bertekat untuk ASI ekslusif. Jadi pada kondisi ini aku butuh bgt support baik dengan tindakan dan omongan. Aku paling benci dan sakit ketika ada komentar gini "Asinya kurang itu makan nangis terus. Coba dikasi susu formula" Tau ga rasanya pengen aku bacok yg ngomong begitu. Ini yg ngomong pasti ga b...

Extra - To pelase Everyone

Aku lg in the middle writing Momlicous series trus tiba2 ter-distracted soal "pleasing everyone" Yeh, dalam hidup kita ini kita pasti punya relasi sama banyak orang entah keluarga, teman, kolega kerja, tetangga dll. Dimana setiap org itu punya ekspektasi sendiri tentang hubungannya dengan kita. Ekspektasi itu bisa menyangkut bagai mana kita seharusnya bersikap sama org itu atau ekspektasi agar kita menjadi sama dan sejalan dengan orang itu. Pada bagian ekspektasi tadi kl kita ga meet their's jadilah terkadang dimongin dibelakang sama si anu si itu kemudian situasi jadi kikuk. Yah sebenarnya dari sananya jelas hidup kita dan pilihan hidup kita adalah milik kita yang akan beda sama sebagian org dan disaat yg bersamaan akan make sense bagi kelompok org lain. Yang artinya pilihan hidup kita, cara kita menjalanani hidup ga bisa please everyone . Selama ga melakukan kejahatan dan merugikan org lain gak apa dong. Aku lg lelah sebenarnya den...

Momlicious Life - the beginning part 2

Previous at Momlicious Life - the beginning part 1 Sekarang aku afraid gimana kl dia cacat krn Kir@nti yg sempat aku minum??? ------------------------------------------ Waktu itu mas bayi masih embryo, masih titik kecil dalam rahimku. Hamil sekitar 4week berdasarkan USG transvaginal. Perasaanku campur aduk krn kawatir soal Kir@nti itu. Rasanya itu kok aku bloon bgt, kok sama sekali ga curiga sama kondisi diri sendiri. Padahal kl aku pikir2 sinyal dari mas bayi yg masih embryo ini ud kuat banget untuk ngasitau kl "ada aku ma" . Ditengah rasa campur aduk itu aku pun ya self-defense, membangun pembenaran pribadi kl sampe ada apa2, but truly itu juga ga satisfy. Ya intinya aku ngerasa bersalah dan bodoh. But then itu kan aku dan dan pikiranku, belum kata Bu dok. Bu dok menjelaskan kalau belum sampai tahap itu, sekarang yg mesti diperhatikan apakah embryo ini bisa bertahan dan berkembang atau enggak. Sebenarnya theoretically, krn jamu kemasan itu bisa memicu luruh ...

Extras - Wedding Anniversary Mode

Well, 1st thing first ya "Happy 2nd Wedding Anniversary to me and hubby" Then a little sharing Adew adew nikah baru sebentar ud sharing, macam da terbukti aja bisa menjalani pernikahan Sakinah, Mawadah, Warohmah. Si Pasaha Unggu aja yg anaknya dinamain Sakinah ujung2nya bubaran sm bini pertamanya (wek ketaun tuanya). Wehehhee, ada yg mikir gitu ga genk?? Menjalani pernikahan yg baru secuprit ini aku dan suami perlu kalibrasi ulang dri periode pacaran ke periode pernikahan. Maksudnya gini yes waktu pacaran aku mencari org yg sesuai dengan (versiku dan caraku) kita. Selama pacaran itu kita berkenalan sama pasangan kita baik kenalan sifatnya, kebisasaanya, pekerjaannya, hobbynya, kondisi keuangannya, keluarganya, and so on (you name it by your own ye). Setelah kenalan kita setuju nih menikah. Nah the problem begin!! Waktu pacaran coy kita tuh cuma terpapar sama yg tadi2 itu paling cuma 10% krn, memang kita bareng sama pacar sehari2 rata...

SATU

Selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu. Pertama kali lahir, sebagai orangtua mungkin masih kikuk bagaimana mengasuh anak. Pertama kali masuk sekolah, setiap anak merasa takut dengan guru atau teman sekelas yang tidak dikenalnya. Pertama kali mengalami pubertas, remaja akan bingung mengapa dia mulai gugup duduk disamping teman pria nya, mungkin dia mulai mengenal jatuh cinta. Pertama kali merasa patah hati, akan menangis sejadi-jadinya merasa hidup engga ada artinya. Pertama kali di kantor mengetahui job desk yang harus dikerjakan takut salah di depan bos. Pertama kali bertemu calon mertua. Ah kalau ini, aku belum pernah. HEHE *kode Iya, selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu. Sesuatu yang tidak diketahui apa yang akan terjadi, belajar menyesuaikan keadaan, belajar mengenal orang-orang sekitar. Ketika pengalaman masa pertama kali dilalui tidak lantas kita kabur karena merasa engga bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Mau engga mau harus dihadapi. Buka...

Momlicious life - the beginning part 1

Alright, 1st of all i gonna use Englonesia which is mixing English and Bahasa. Plis ingat aku sebagai mamak2 alay 🙃🙃. ☺ Let me introduce my self, the name is Ayu, one of three contributors of this very blog. And well yaaa tag "girl" agak ga cocok buatku karena aku ud mamak2 beranak nyaris 2 (1 msh diperut). Sebelum menikah aku punya pekerjaan yg aku inginkan bahkan sempat tinggal di Bali surganya Indonesia, pun aku menikah di Bali.  Uugh dreamy dreamy crunchy ga tuh! Sejak pacaran, aku memang menekankan sama suami kl aku pingin mengasuh dan membesarkan anakku dengan kedua tanganku. Jadi sebenarnya keputusan resign, and stay at home not some complicated decision but lil bit hard (hahaha). Ok back to topic, soal momlicious life alias mamak2 layf. Since you won't be called as mom before you've child (baik anak kandung, anak angkat, anak kucing, ya you name it lah 😜), so this is the crispy story about my first pregnancy. Well this is kind of super stupid story si...

Step Back 20 Days

Mengapa judul tulisan ini Step Back 20 days? karena ini +/-20 hari sebelum kita mengakhiri bulan ke sebelas di tahun 2019. Ini waktu yang tepat bagi kita untuk step back and review whats happening in our life in this year.  Right before the Holiday Season. Dua Puluh hari itu bisa saja menjadi waktu yang lama atau hanya sekejap mata.  Apakah 20 hari waktu yang cukup untuk menjernihkan pikiran,nge-restart hati kita? Untuk mengerti apakah yang kita alami dan rasakan ini riil atau hanya delusi, tentu saja ketika kita sedang mengalami yang namanya kebingungan. Waktu kita masih berumur 20 tahun, bagi kita segala sesuatu adalah riil, tidak ada yang namanya delusi. Fantasi bagaikan realita yang menunggu ketika kita membuka mata dari tidur. Bahkan meskipun sebenarnya kita juga sedang bermimpi terbangun dari mimpi kita dan kenyataan nya kita masih saja tertidur. Kita tidak merasa memerlukan waktu untuk mengevaluasi hati dan pikiran kita. Bagi kita semua itu sama nyata nya dengan ma...