Langsung ke konten utama

Step Back 20 Days

Mengapa judul tulisan ini Step Back 20 days?
karena ini +/-20 hari sebelum kita mengakhiri bulan ke sebelas di tahun 2019. Ini waktu yang tepat bagi kita untuk step back and review whats happening in our life in this year. 
Right before the Holiday Season.

Dua Puluh hari itu bisa saja menjadi waktu yang lama atau hanya sekejap mata. Apakah 20 hari waktu yang cukup untuk menjernihkan pikiran,nge-restart hati kita? Untuk mengerti apakah yang kita alami dan rasakan ini riil atau hanya delusi, tentu saja ketika kita sedang mengalami yang namanya kebingungan.

Waktu kita masih berumur 20 tahun, bagi kita segala sesuatu adalah riil, tidak ada yang namanya delusi. Fantasi bagaikan realita yang menunggu ketika kita membuka mata dari tidur. Bahkan meskipun sebenarnya kita juga sedang bermimpi terbangun dari mimpi kita dan kenyataan nya kita masih saja tertidur. Kita tidak merasa memerlukan waktu untuk mengevaluasi hati dan pikiran kita. Bagi kita semua itu sama nyata nya dengan matahari yang selalu bersinar di pagi hari dan terbenam di sore hari.


Masih ingatkah ketika kita jatuh hati di usia kita 20 tahun an dan bandingkan saja ketika kita jatuh hati di usia 30 > 😁😁😁.
Not teenager but not adult yet kind of love itu cukup gila rasanya. Bagi kita semua itu nyata, bahkan ketika kita berasa jalan di hamparan bunga - bunga, di tengah kebun lavender yang indah dimana ada kicauan burung yang seolah - olah menyanyikan senandung dihati kita yang automuncul ketika menyebut nama si dia dalam hati kita. Saat itu kita tidak pernah memikirkan bahwa kita memerlukan waktu untuk mundur beberapa langkah sejenak,untuk memahami apakah kita ditakdirkan mengecap manisnya romansa untuk selamanya atau hanya sekejap mata. 


Bagaimana dengan kita yang sudah memasuki usia yang seharusnya dikatakan dewasa, jatuh hati itu bukan suatu hal yang harus dibesar-besarkan lagi. Kita mengerti bahwa jatuh hati dan patah hati hanya bagian dari kehidupan. Seperti ketika ada waktu nya kita bahagia karena memenangkan lottery dan ada masanya kita harus menelan pil pahit agar kita sembuh dari sakit. Bukan itu permasalahan nya. 
Bagi kita, perlu waktu untuk menimbang kembali segala kemungkinan sebab akibat dari segala sesuatu. Tidak penting lagi crazy love itu jika tidak membawa kita kepada sebuah keputusan dan ketetapan hati untuk melangkah dalam jenjang kehidupan yang baru. 
Disini kita baru akan mengajukan pertanyaan berapa lamakah waktu yang kita perlukan untuk bisa menilai sebuah realita atau delusi. Apakah 20 hari itu waktu yang cukup? Mungkin saja terlalu lama atau bisa saja terlalu singkat.


Berapa lama pun waktu yang kita perlukan, biarlah hati kita menemukan jawaban dari pertanyaan - pertanyaan kita, may our heart find rest in the end, may our hearts know the truth, may our logic find the reason to trust our heart to choose the destination of our reality.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Momlicious Life - the beginning part 2

Previous at Momlicious Life - the beginning part 1 Sekarang aku afraid gimana kl dia cacat krn Kir@nti yg sempat aku minum??? ------------------------------------------ Waktu itu mas bayi masih embryo, masih titik kecil dalam rahimku. Hamil sekitar 4week berdasarkan USG transvaginal. Perasaanku campur aduk krn kawatir soal Kir@nti itu. Rasanya itu kok aku bloon bgt, kok sama sekali ga curiga sama kondisi diri sendiri. Padahal kl aku pikir2 sinyal dari mas bayi yg masih embryo ini ud kuat banget untuk ngasitau kl "ada aku ma" . Ditengah rasa campur aduk itu aku pun ya self-defense, membangun pembenaran pribadi kl sampe ada apa2, but truly itu juga ga satisfy. Ya intinya aku ngerasa bersalah dan bodoh. But then itu kan aku dan dan pikiranku, belum kata Bu dok. Bu dok menjelaskan kalau belum sampai tahap itu, sekarang yg mesti diperhatikan apakah embryo ini bisa bertahan dan berkembang atau enggak. Sebenarnya theoretically, krn jamu kemasan itu bisa memicu luruh ...

Momlicious life - the beginning part 1

Alright, 1st of all i gonna use Englonesia which is mixing English and Bahasa. Plis ingat aku sebagai mamak2 alay 🙃🙃. ☺ Let me introduce my self, the name is Ayu, one of three contributors of this very blog. And well yaaa tag "girl" agak ga cocok buatku karena aku ud mamak2 beranak nyaris 2 (1 msh diperut). Sebelum menikah aku punya pekerjaan yg aku inginkan bahkan sempat tinggal di Bali surganya Indonesia, pun aku menikah di Bali.  Uugh dreamy dreamy crunchy ga tuh! Sejak pacaran, aku memang menekankan sama suami kl aku pingin mengasuh dan membesarkan anakku dengan kedua tanganku. Jadi sebenarnya keputusan resign, and stay at home not some complicated decision but lil bit hard (hahaha). Ok back to topic, soal momlicious life alias mamak2 layf. Since you won't be called as mom before you've child (baik anak kandung, anak angkat, anak kucing, ya you name it lah 😜), so this is the crispy story about my first pregnancy. Well this is kind of super stupid story si...

Momlicious - Yoga Attitude

Hola genk, how's d? Gimana 2 bulan #stayathome ini? Ah aku mw share sedikit soal attitude sih bukan soal Yoganya. Ok, aku kenal Yoga sebenernya ud dari jaman kuliah S2, sekali2 aku suka ikut kelas Yoga di gym. Lalu pas kerja kebetulan ada Yoga juga seminggu sekali. Tapi itu yoganya ya cuma ikut2an aja, biar keren, biar gaul. Dari setiap sesi Yoga aku ya cuma dapet manfaat olah tubuh doang. Kemudian waktu berlalu, sampai akhirnya aku yoga hamil pas hamil mas bayi tp itupun aku males2an krn emang males gerak 🤣. Lalu hamil adek bayi, krn aku bertekad VBAC jadi Yoga hamilnya niat bgt meski kepayahan dalam setiap pose. Well aku masih rutin Yoga sampai sekarang adek bayi 4 bulan. Awal2 yoga ya biasa aja, yg aku kejar manfaat yoga untuk optimalisasi posisi janin, kekuatan nafas dan perut saat melahirkan nanti. Tapi lama kelamaan setiap aku yoga aku semakin sadar, semakin sayang sama diriku sendiri. Samalah kira2 kaya kl kita sayang sama our significantone, rasanya ping...