Selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu.
Pertama kali lahir, sebagai orangtua mungkin masih kikuk bagaimana mengasuh anak.
Pertama kali masuk sekolah, setiap anak merasa takut dengan guru atau teman sekelas yang tidak dikenalnya.
Pertama kali mengalami pubertas, remaja akan bingung mengapa dia mulai gugup duduk disamping teman pria nya, mungkin dia mulai mengenal jatuh cinta.
Pertama kali merasa patah hati, akan menangis sejadi-jadinya merasa hidup engga ada artinya.
Pertama kali di kantor mengetahui job desk yang harus dikerjakan takut salah di depan bos.
Pertama kali bertemu calon mertua. Ah kalau ini, aku belum pernah. HEHE *kode
Iya, selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu.
Sesuatu yang tidak diketahui apa yang akan terjadi, belajar menyesuaikan keadaan, belajar mengenal orang-orang sekitar.
Ketika pengalaman masa pertama kali dilalui tidak lantas kita kabur karena merasa engga bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Mau engga mau harus dihadapi. Bukan hanya karena keadaan atau orang terdekat yang mensupport, lebih sering karena kita sampai di titik harus melihat ke depan, “WAH AKU ENGGA MUNGKIN STUCK DI SINI. Aku harus gerak meski dengan langkah kecil.”
Benar, hanya langkah kecil. Karena setiap pertama kali ‘dimulai bayi, setiap manusia selalu mulai dengan langkah kecil untuk dapat berlari’. Meski kadang jatuh dan menangis bayi tidak berhenti melangkah dengan kaki kecilnya, karena melihat ayah dan ibunya berada beberapa langkah di depannya mengatakan “Ayo nak sini nak..sama Mama”, dan Sang Ibu tetap membiarkan anaknya melangkah meski dengan langkah kecil dan tertatih supaya anak bisa kuat kakinya dan dapat berjalan.
Setiap pertama kali, ada langkah kecil, dan meski takut karena ketidakpastian, belajar dari Nol (bukan cuma pom bensin doang,) ada Penguasa hidup (TUHAN) yang membiarkan kita berjalan meski tertatih, sampai di tujuan setiap kita.
N.B tulisan ini, sedang menghibur diri wkwk
🌻 mika
Pertama kali lahir, sebagai orangtua mungkin masih kikuk bagaimana mengasuh anak.
Pertama kali masuk sekolah, setiap anak merasa takut dengan guru atau teman sekelas yang tidak dikenalnya.
Pertama kali mengalami pubertas, remaja akan bingung mengapa dia mulai gugup duduk disamping teman pria nya, mungkin dia mulai mengenal jatuh cinta.
Pertama kali merasa patah hati, akan menangis sejadi-jadinya merasa hidup engga ada artinya.
Pertama kali di kantor mengetahui job desk yang harus dikerjakan takut salah di depan bos.
Pertama kali bertemu calon mertua. Ah kalau ini, aku belum pernah. HEHE *kode
Iya, selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu.
Sesuatu yang tidak diketahui apa yang akan terjadi, belajar menyesuaikan keadaan, belajar mengenal orang-orang sekitar.
Ketika pengalaman masa pertama kali dilalui tidak lantas kita kabur karena merasa engga bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Mau engga mau harus dihadapi. Bukan hanya karena keadaan atau orang terdekat yang mensupport, lebih sering karena kita sampai di titik harus melihat ke depan, “WAH AKU ENGGA MUNGKIN STUCK DI SINI. Aku harus gerak meski dengan langkah kecil.”
Benar, hanya langkah kecil. Karena setiap pertama kali ‘dimulai bayi, setiap manusia selalu mulai dengan langkah kecil untuk dapat berlari’. Meski kadang jatuh dan menangis bayi tidak berhenti melangkah dengan kaki kecilnya, karena melihat ayah dan ibunya berada beberapa langkah di depannya mengatakan “Ayo nak sini nak..sama Mama”, dan Sang Ibu tetap membiarkan anaknya melangkah meski dengan langkah kecil dan tertatih supaya anak bisa kuat kakinya dan dapat berjalan.
Setiap pertama kali, ada langkah kecil, dan meski takut karena ketidakpastian, belajar dari Nol (bukan cuma pom bensin doang,) ada Penguasa hidup (TUHAN) yang membiarkan kita berjalan meski tertatih, sampai di tujuan setiap kita.
N.B tulisan ini, sedang menghibur diri wkwk
🌻 mika
Komentar
Posting Komentar