Langsung ke konten utama

SATU

Selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu.
Pertama kali lahir, sebagai orangtua mungkin masih kikuk bagaimana mengasuh anak.
Pertama kali masuk sekolah, setiap anak merasa takut dengan guru atau teman sekelas yang tidak dikenalnya.
Pertama kali mengalami pubertas, remaja akan bingung mengapa dia mulai gugup duduk disamping teman pria nya, mungkin dia mulai mengenal jatuh cinta.
Pertama kali merasa patah hati, akan menangis sejadi-jadinya merasa hidup engga ada artinya.
Pertama kali di kantor mengetahui job desk yang harus dikerjakan takut salah di depan bos.
Pertama kali bertemu calon mertua. Ah kalau ini, aku belum pernah. HEHE *kode

Iya, selalu ada yang pertama kali dalam segala sesuatu.
Sesuatu yang tidak diketahui apa yang akan terjadi, belajar menyesuaikan keadaan, belajar mengenal orang-orang sekitar.

Ketika pengalaman masa pertama kali dilalui tidak lantas kita kabur karena merasa engga bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Mau engga mau harus dihadapi. Bukan hanya karena keadaan atau orang terdekat yang mensupport, lebih sering karena kita sampai di titik harus melihat ke depan, “WAH AKU ENGGA MUNGKIN STUCK DI SINI. Aku harus gerak meski dengan langkah kecil.”

Benar, hanya langkah kecil. Karena setiap pertama kali ‘dimulai bayi, setiap manusia selalu mulai dengan langkah kecil untuk dapat berlari’. Meski kadang jatuh dan menangis bayi tidak berhenti melangkah dengan kaki kecilnya, karena melihat ayah dan ibunya berada beberapa langkah di depannya mengatakan “Ayo nak sini nak..sama Mama”, dan Sang Ibu tetap membiarkan anaknya melangkah meski dengan langkah kecil dan tertatih supaya anak bisa kuat kakinya dan dapat berjalan.

Setiap pertama kali, ada langkah kecil, dan meski takut karena ketidakpastian, belajar dari Nol (bukan cuma pom bensin doang,) ada Penguasa hidup (TUHAN) yang membiarkan kita berjalan meski tertatih, sampai di tujuan setiap kita.

N.B tulisan ini, sedang menghibur diri wkwk


🌻 mika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Momlicious Life - the beginning part 2

Previous at Momlicious Life - the beginning part 1 Sekarang aku afraid gimana kl dia cacat krn Kir@nti yg sempat aku minum??? ------------------------------------------ Waktu itu mas bayi masih embryo, masih titik kecil dalam rahimku. Hamil sekitar 4week berdasarkan USG transvaginal. Perasaanku campur aduk krn kawatir soal Kir@nti itu. Rasanya itu kok aku bloon bgt, kok sama sekali ga curiga sama kondisi diri sendiri. Padahal kl aku pikir2 sinyal dari mas bayi yg masih embryo ini ud kuat banget untuk ngasitau kl "ada aku ma" . Ditengah rasa campur aduk itu aku pun ya self-defense, membangun pembenaran pribadi kl sampe ada apa2, but truly itu juga ga satisfy. Ya intinya aku ngerasa bersalah dan bodoh. But then itu kan aku dan dan pikiranku, belum kata Bu dok. Bu dok menjelaskan kalau belum sampai tahap itu, sekarang yg mesti diperhatikan apakah embryo ini bisa bertahan dan berkembang atau enggak. Sebenarnya theoretically, krn jamu kemasan itu bisa memicu luruh ...

Momlicious life - the beginning part 1

Alright, 1st of all i gonna use Englonesia which is mixing English and Bahasa. Plis ingat aku sebagai mamak2 alay 🙃🙃. ☺ Let me introduce my self, the name is Ayu, one of three contributors of this very blog. And well yaaa tag "girl" agak ga cocok buatku karena aku ud mamak2 beranak nyaris 2 (1 msh diperut). Sebelum menikah aku punya pekerjaan yg aku inginkan bahkan sempat tinggal di Bali surganya Indonesia, pun aku menikah di Bali.  Uugh dreamy dreamy crunchy ga tuh! Sejak pacaran, aku memang menekankan sama suami kl aku pingin mengasuh dan membesarkan anakku dengan kedua tanganku. Jadi sebenarnya keputusan resign, and stay at home not some complicated decision but lil bit hard (hahaha). Ok back to topic, soal momlicious life alias mamak2 layf. Since you won't be called as mom before you've child (baik anak kandung, anak angkat, anak kucing, ya you name it lah 😜), so this is the crispy story about my first pregnancy. Well this is kind of super stupid story si...

Momlicious - Yoga Attitude

Hola genk, how's d? Gimana 2 bulan #stayathome ini? Ah aku mw share sedikit soal attitude sih bukan soal Yoganya. Ok, aku kenal Yoga sebenernya ud dari jaman kuliah S2, sekali2 aku suka ikut kelas Yoga di gym. Lalu pas kerja kebetulan ada Yoga juga seminggu sekali. Tapi itu yoganya ya cuma ikut2an aja, biar keren, biar gaul. Dari setiap sesi Yoga aku ya cuma dapet manfaat olah tubuh doang. Kemudian waktu berlalu, sampai akhirnya aku yoga hamil pas hamil mas bayi tp itupun aku males2an krn emang males gerak 🤣. Lalu hamil adek bayi, krn aku bertekad VBAC jadi Yoga hamilnya niat bgt meski kepayahan dalam setiap pose. Well aku masih rutin Yoga sampai sekarang adek bayi 4 bulan. Awal2 yoga ya biasa aja, yg aku kejar manfaat yoga untuk optimalisasi posisi janin, kekuatan nafas dan perut saat melahirkan nanti. Tapi lama kelamaan setiap aku yoga aku semakin sadar, semakin sayang sama diriku sendiri. Samalah kira2 kaya kl kita sayang sama our significantone, rasanya ping...